My Life My Adventure and My Story

12 Oktober 2014

Makna Sebuah Kehadiran

Minggu, Oktober 12, 2014 Posted by n.hadiyati , No comments
Aku mendapatkan pesan ini di Grup Whatsapp, trus habis delete history menyesal karena belum sempat dicopas, dan alhamdulillah tadi lagi tumblring *istilah sendiri jelajah tumblr orang, aku menemukannya, semoga bermanfaat ... terkadang yang dibutuhkan dari semua hal adalah teman disamping kita, duduk bersama. Bukankah Ebiet G Ade pernah bilang "perjalanan ini terasa sangat menyedihkan, bila kau tak duduk disampingku kawan

Hadir

A short story by Virgi

Ruangan itu semakin dingin. Membuat setiap yang hadir dan melingkari meja makin kian merapatkan jaketnya. Di luar suara bising kendaraan kian memekakkan telinga. Hujan sejak sore menyisakan macet berkepanjangan di kota sepadat ini. Selalu begitu.

"Sungguh jangan pernah menyepelekan sebuah kehadiran…," kalimat itu diucapkan datar, namun entah mengapa menyentak logikaku dengan cepat.

Matanya tajam, berpendar ke sekeliling meja panjang itu. Menatap tajam setiap yang hadir. Tatapan yang unik, menurutku. Tatapan tajam yang sedikit ‘memohon’.

"Jangan pernah menyepelekan sebuah kehadiran. Ide diskusi ini memang baru saja diusulkan minggu lalu. Biarlah. Biarlah forum baru ini berjalan pelan-pelan," ujarnya setelah jeda cukup lama.

Sekali lagi. Ada sesuatu yang sepertinya akan akan menjadi pelajaran berharga bagiku. Malam ini sepertinya akan ada hikmah baru. Begitu pikirku.

"Untuk sekarang ini, tak terlalu penting kita bisa mengundang pembicara hebat. Tak terlalu mendesak kita untuk menyewa ruangan lebih luas. Tak usah dulu kita agendakan macam2. Cukuplah masing-masing kita menguatkan satu sama lain dengan sebuah kehadiran."

Malam kian larut. Angin malam menamparkan rasa sejuknya wajahku yang pias. Jalan raya masih ramai. Macet belum juga surut.

Ya. Malam ini aku belajar tentang makna penting sebuah kehadiran. Bukan. Bukan untuk apa-apa. Hanya untuk menguatkan hati-hati yang berniat suci namun ragunya masih mendominasi.

Malam ini aku tersadar. Bahwa amal shalih bukan hanya kerja keras sampai larut. Ya, sebuah kehadiran. Hanya sebuah kehadiran. Yang mungkin terlihat remeh. Namun dampaknya begitu besar. Amal shalih tak harus berupa kerja keras sampai larut. Kata-kata itu masih terngiang. Kehadiran.

"Cukuplah kita saling berjanji untuk mengistiqomahkan sebuah kehadiran," ujarnya kembali dengan raut meyakinkan. Tampak betul ia paham dengan keadaan.

"Sungguh. Yang membuat kita kuat kadangkala bukanlah kerja-kerja hebat. Yang bertumbuh, kadang tak selalu disebabkan segelintir jiwa yang kau kira teguh. Yang membuat abadi justru adalah kehadiran kawan-kawan sejati yang secara tak langsung saling menguatkan hati."

Malam itu aku belajar sebuah hikmah dari komitmen dalam hati. Bukan komitmen muluk-muluk. Hanya komitmen untuk menguatkan setiap hati dengan sebuah kehadiran.

"Yang menguatkan, sungguh adalah hal-hal yang seperti ini," lanjutnya. "Upayamu untuk meluangkan waktu, di tengah-tengah kesibukanmu, hanya untuk meyakinkan yang lain bahwa kau masih setia disitu."

Maka sejak malam itu, aku tak pernah menyepelekan sebuah kehadiran. Tak apalah orang bilang aku hanya tim hore. Tak mengapa mereka anggap aku tak kerja nyata. Aku tau aku mungkin tak setangkas yang lain dan ideku tak secemerlang itu. Tapi aku punya hal berharga yang bisa selalu kubawakan. Aku akan persembahkan ‘kehadiran’.

Kehadiranku jadi penyemangat bagi jiwa-jiwa yang terlihat teguh. Kehadiranku akan jadi hadiah bagi jiwa-jiwa hebat yang kadang resah hanya karena tak hadirnya mereka yang diharap.

Biarlah aku beramal shalih dengan caraku sendiri. Mungkin aku belum sehebat mereka. Mungkin aku belum bisa lakukan banyak hal. Namun aku punya caraku sendiri. Kehadiranku adalah sebuah hadiah yang indah.

Dengannya, aku siap memperpanjang masa semangat itu. Bersamanya, aku sanggup meneguhkan jiwa-jiwa yang rentan bosan itu. Kehadiranku adalah amal shalihku.

Tak terasa, sudah satu jam aku berdiri disitu, malam kian larut. Bis yang kutunggu tak juga lewat.

Kuulaskan satu senyum tipis. Berisi janji dalam hati bahwa setelah ini, kehadiranku akan jadi salah satu wujud amal shalihku.

- Ditulis saat gerimis, di kemacetan Senayan, Jakarta Pusat 17/04/14 -

0 komentar:

Posting Komentar