11 Oktober 2014

Uhibbukunna fillaah

Ceritanya aku menemukan sebuah link tautan dari blog teman dan aku tertarik dengan sangat isinya, maka ingin kubagi pada kalian, kalian yang kusayangi karena Allah, silakan buka link ini untuk membaca keseluruhannya sebuah tulisan dari Ummu Said Fauziyyah, karena aku hanya mengutip beberapa dan mungkin ada yang terubah sesuai keinginan hati, maafkan semoga bermanfaat

Bismillah

Sebelum kau mengira aku sempurna tanpa cela,
hanya mengharap intan atau harta,
atau menghilangkan jejakmu dalam buku cerita..

Teruntuk kalian.. Uhibbukunna fillaah.. Baarakallahu fiikunna. Dariku, manusia yang penuh cela.

Pertemanan. Sebuah kata yang sarat makna menurutku. Akan sangat menyentuh hati dan mendatangkan beribu manfaat kalau dijalankan sesuai syariat-Nya. Dalam pertemanan itu, kita saling melengkapi, mengingatkan, memberi nasihat, tukar menukar cerita dan pengalaman…ah, pokoknya banyak sekali. Dalam pertemanan juga tidak boleh ada kebohongan, betul ngga? Satu saja kebohongan diciptakan maka goyahlah pertemanan tersebut. Tapi pertemanan tidak menuntut kesempurnaan karena semua manusia pasti memiliki cela, nah disinilah -saling melengkapi- itu akan berfungsi.

Aku dan kekuranganku … Kalian mengenalku sebagai -seseorang- yang tertutup, dengan jilbab lebar dan tebal serta rok panjang. Tapi kawan, aku masih memiliki beribu cela, ntah itu keegoisan, buruk akhlak, ketidak sabaran, atau mungkin lidahku yang selalu menyakiti setiap orang. Disinilah aku tidak ingin kalian menganggapku terlalu baik hanya karena melihat penampilanku, atau kalian malah menyamaratakan buruknya seseorang yang berpenampilan tertutup hanya karena banyaknya cela dalam diriku. Ya, inilah aku dengan satu tahap dari beribu tahap menuju -perbaikan- (in syaa’ Allaah)…. inilah aku dengan beribu cela. Aku membutuhkan nasihat dan teguran kalian karena mungkin ketika aku bergaul dengan kalian terlihatlah akhlakku yang buruk. Janganlah sungkan untuk menegurku… Imam Syafi’i dalam syairnya mengatakan:

Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,
dan jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian
karena nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk satu jenis
pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya
jika engkau menyelisihi dan menolak saranku
maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti
(Diwaan Imam Syafi’i, dikumpulkan dan disusun oleh Muhammad Ibrahim Saliim, hal 91. Dikutip dari muslimah.or.id)

Aku dan perbedaan… Kawan, dalam pertemanan ini, harapanku mungkin berbeda dengan harapan sebagian teman-teman lainnya, yang mungkin mereka akan berkata “Semoga kita bisa ke Paris bersama, memiliki rumah mewah, mobil banyak, terkenal”. lalu harapanku? Cukuplah aku katakan “Semoga Allaah menyatukan kita di jannah-Nya”. Aku menginginkan pertemanan dan kebersamaan kita tidak sampai disini saja, di dunia tapi juga sampai akhirat. Kita bertemu kembali di surga. Namun aku tau, perjalanan menuju ke sana tidaklah mudah karena banyak sekali kerikil tajam yang akan menghalangi perjalanan kita, butuh pengorbanan dan kesabaran dan akhirnya kelelahan kita itu akan terbalas dengan beribu nikmat yang ada didalamnya. Semoga Ia menyatukan kita kembali di jannah-Nya.

Aku dan perbedaan… Kebersamaan. Aku menyebutnya kebersamaan, mungkin sedikit berbeda dengan mereka yang diluar sana. kebersamaan bukan hanya sekadar bisa mejelajah tempat baru, berkunjung ke mall, makan ice cream, atau bahkan makan lalapan bersama. Ada Kebersamaan lebih tinggi lagi melalui pertemuan doa sebagaimana Imam Ghazali mengatakan :

“Ukhuwah itu bukan pada indahnya pertemuan, tapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam doanya.”
― Abu Hamid al-Ghazali

Ya, inilah aku yang hanya bisa memohon kepada-Nya agar siapapun orang -baik kalian ataupun yang lain- yang telah berbuat baik kepadaku, semoga Ia membalas kebaikannya.

Tentangmu… Tentang kalian yang telah menemani hari-hariku, aku tidak akan menuntut lebih dan menyisipkan harapan terselubung dari tali ikatan antara kita. Karena bagiku, kalian telah menerimaku menjadi bagian dari salah satu fase kehidupan kalian saja aku sangatlah bersyukur. Kebersamaan antara kita membuatku nyaman, itu lebih dari cukup. Nyaman menurutku bukan diukur dengan kesenangan, tapi diukur dengan toleransi dan kebaikan. Ah maa syaa Allaah.. Uhibbukunna fillah (aku mencintai kalian karena Allaah)

Aku menemukan kalian diantara mereka yang menyapaku
Terikatlah tali pertemanan antara kita
Berkembanglah harapan-harapan bagi ia yang menyadarinya
Dan yang terbesar dari asa itu adalah bersatu di jannah-Nya
Namun siapalah aku?
Aku hanya hamba lemah dan kadang tergoda nafsu
Maka jika aku tak mampu mengajakmu ke jannah-Nya
Aku akan berusaha untuk tidak menyeretmu ke neraka-Nya
Dan jika engkau tidak menemukanku di sana
Mintalah pada-Nya agar aku dikumpulan denganmu, di sana.. Jannah-Nya

Teruntuk kalian.. Uhibbukunna fillaah.. Baarakallahu fiikunna. Dariku, manusia yang penuh cela.

“Janganlah menyia-nyiakan orang yang engkau ketahui baik prilakunya, terpuji akhlaknya, banyak keutamaannya, dan cerdas akalnya, hanya karena satu kekurangan diantara sekian banyak kelebihannya. Sesungguhnya sepanjang hidupmu tidak akan pernah menemukan manusia sempurna tanpa cela atau tak pernah melakukan dosa.“(Al-Imam Al Mawardi dalam Adaab Uddunya wa Addiin, hal 175)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Variabel : KAMMI dan FH UB (Perspektif Saya) Kaitan Kepentingan

Saya ingin menulis sedikit tentang ketakutan tentang “kepentingan” yang berada di FH UB, ada sebuah statement menarik di ask.fm sesungguhny...